resume pkkmb hari ke-2
resume pkkmb hari ke-2 1.Perguruan tinggi di era digital dan revolusi industri
Munculnya AI seperti munculnya listrik
bagi manusia, perkembangan ini yang mengubah umat manusia nah tantangannya
bagaimana kita tidak rugi dalam menggunakan AI
Kuadran AI: kreativitas x kemanusiaan
Bayangkan 7
tahun lalu tidak ada AI dan jika ada AI tahun itu masih spesifik beda dengan
sekarang yang sudah canggih, kuadran dalah membantu kita bagaiman kita
berpartisipasi dalam menggunakan AI. Ada dua hal yang tidak bisa tegantikan
dengan AI yaitu:
1.kemampuan berpikir kreatif
2.menciptakan sesuatu yang baru
( sentuhan manusia)
AI tidak bisa menciptakan sesuatu yang di
luar ( tidak terdeteksi oleh AI) yang harus kita lakukan adalah punya skill
kemampuan membangun diri berpikir kreatif, rasa empeti ,
Contoh untuk pelayanan kemanusiaan,
seperti dokter itu perlu nilai kemanusiaan
yang bersifat kemanusiaan yang tidak bisa di ganti dengan robot Contoh
pendidikan tidak banyak kreatifitasnya sendiri seperti konten vidio belajar
kegiatan belajar efektif ada guru atau mentor di samping kita
Kuadran ini sangat diperlukan kreatifitasnya,empati,compation mengapa kampus NU harus memimpin? Karena
dengan nilai NU mengedepankan maslahat bahwa sering kali Nahdiyin atau Aswaja
itu berbeda karena kita mendahulukan maslahat rahmatan Lil alamin
1.kemaslahatan:teknologi untuk martabat manusia
2.pengarahan arus:etika akses dan dampak sosial
3.kompas NU:teknologi mengajarkan akhlak,pelayanan dan keadilan .
Kita bukan standar pengguna
teknologi tapi pengarah arus.
Dampak AI perubahan era yang sifatnya harus berpikir kreatif,sekarang
berkolaborasi dengan AI dan di dampingi oleh AI prinsip
5A .adap: mendahulukan
adap dari pada AI ( menta-mentah copy tugas,copy AI itu adalah yang tidak ada adab, yang paling bener dengan menggunakan
pikiran dan kelelahan tangan kita.
Amanah: menjaga data pribadi,
kalau kita menggunakan AI maka kita menitipkan data ke AI .
Akurasi: pastikan selalu
verifikasi ulang seperti copy paste dari AI itu tidak verifikasi ulang.
Akuntabilitas: bahwa mesin tidak
akan pernah bisa diminta pertanggung jawaban, karena AI hanya membantu dan yang
bisa diminta tanggung jawab itu kamu sendiri.
Akses: teknologi baru impower semua orang tidak boleh menguras sumber daya alam.Etika dan integrasi akademik jangan menggunakan AI jika ada tugasDan hati-hati untuk memverifikasi ulang
Dan era AI ini tidak menunggu kita siap
maka Jiak tidak siap kita akan di tinggalkan makan kita bangun kecil-kecilan
kreativitas dan kemaslahatan.
2. Mencetak mahasiswa unusa sebagai generasi Aswaja AN-NIHDLYAH
Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) secara inheren diposisikan sebagai penerus dan pewaris tradisi keilmuan serta keagamaan Aswaja An-Nahdliyah, mengingat universitas ini didirikan dan berafiliasi langsung dengan Nahdlatul Ulama (NU)—organisasi Islam terbesar di Indonesia yang menjadi rujukan utama paham Aswaja An-Nahdliyah. Berikut penjelasan mendalam mengenai peran dan karakteristik mahasiswa UNUSA sebagai generasi Aswaja An-Nahdliyah:
1. Landasan Ideologis: Apa Itu Aswaja An-Nahdliyah?
Aswaja (Ahlusunnah wal Jama'ah): Merupakan paham keislaman yang mengikuti jejak generasi terbaik (salafus shalih) dalam beragama, berpegang pada Al-Qur'an, Hadis, Ijma Ulama, dan Qiyas.
An-Nahdliyah: Merujuk pada corak ke-NU-an yang menekankan keseimbangan (tawazun), moderasi (tawassuth), toleransi (tasamuh), dan kemaslahatan (ishlah).
Ciri Khas:
Berada di tengah (bukan ekstrem kanan maupun kiri).
Menghormati keberagaman mazhab (terutama Syafi'iyyah dalam fiqih, Asy'ariyyah/Maturidiyyah dalam akidah, dan Al-Ghazali dalam tasawuf).
Mengutamakan dampak sosial dari pemahaman agama (fiqih sosial).
2. Peran Mahasiswa UNUSA sebagai Generasi Aswaja An-Nahdliyah
a. Penjaga Tradisi Keilmuan Mahasiswa UNUSA dididik untuk memahami dan mengamalkan khasanah keilmuan klasik NU (kitab kuning) dengan pendekatan kontekstual.
Contoh: Studi kitab seperti Ta'limul Muta'allim, Fathul Qorib, atau Uqudulujain yang menjadi rujukan etika dan ibadah dalam tradisi NU.
b. Agen Moderasi BeragamaSebagai kader NU, mahasiswa UNUSA diarahkan untuk menjadi pelopor toleransi dan perdamaian:
Menolak radikalisme dan ekstremisme.
Membangun dialog antaragama dan budaya.
Menyebarluaskan Islam yang rahmatan lil 'alamin (kasih sayang untuk semesta).
c. Pejuang Kemaslahatan Sosial Aswaja An-Nahdliyah mengutamakan amar ma'ruf nahi munkar melalui pendekatan yang bijak: Terlibat dalam pemberdayaan masyarakat (ekonomi, pendidikan, kesehatan). Mengadvokasi isu-isu kemanusiaan (lingkungan, kesetaraan gender, anti-korupsi).
Contoh: Kegiatan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Islam di UNUSA yang fokus pada sosial kemasyarakatan.
d. Inovator dalam Tradisi
Mahasiswa UNUSA didorong untuk mengadaptasi nilai-nilai Aswaja dalam konteks modern: Mengembangkan teknologi dan startup berbasis nilai Islam. Menyelesaikan masalah kontemporer (seperti hoaks, radikalisme online) dengan perspektif Aswaja. Mempopulerkan budaya lokal (seperti gamelan, wayang) sebagai bagian dari dakwah kebudayaan NU.
3. Implementasi di Kampus UNUSA
Kurikulum: Mata kuliah wajib seperti Pendidikan Agama Islam, Ke-NU-an, dan Aswaja An-Nahdliyah yang mengajarkan landasan teologis dan praktis.
Kegiatan Kemahasiswaan:
Majelis Taklim: Kajian kitab klasik dan kontemporer.
Lembaga Semi Otonom (LSO): Seperti PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) atau IPNU/IPPNU yang mengkader aktivis Aswaja.
Festival Budaya NU: Mengangkat tradisi seperti shalawatan, hadrah, dan dzikir.
Kolaborasi dengan NU: Mahasiswa terlibat aktif dalam kegiatan PBNU atau PWNU Jawa Timur, seperti Muktamar, Harlah NU, atau program sosial.
4. Tantangan bagi Generasi Aswaja An-Nahdliyah Globalisasi dan Radikalisme: Menjaga identitas Aswaja di tengah arus pemikiran transnasional yang ekstrem.
Disrupsi Digital: Menyebarkan narasi Aswaja yang moderat di ruang maya yang rentan hoaks.
Relevansi Pemuda: Membuktikan bahwa Aswaja An-Nahdliyah adalah solusi bagi masalah modern, bukan sekadar warisan masa lalu.
3. Generasi muda berintegritas anti korupsi
Integritas generasi sebagai karakter utama bangsa indonesia ,inilah akibat korupsi bukan saja hanya uang tapi SDM dan harapan bangsa hancur, sekolah yang terbangun dan di korup dan hasilnya banyak anak-anak yang tidak sekolah dan sumber daya yang hancur, korupsi menurunkan sumber daya alam,karna korupsi rusak pasar.
Kenal korupsi agar agar dapat menghindari
- Kenal korupsi agar dapat menghindari
1.ada pelanggaran hukum dan merugikan negara
2.pengadaan barang jasa.
Fakta-fakta kondisi karakter indonesia
-Budaya mengantre
-dusiplin lalu lintas
-Ketertiban jalan raya
Korupsi versi mahasiswa
-terlambat
-mencpntek
-penyalagunaan dana beasiswa
-titip absen
https://deawindysetiawan.blogspot.com/2025/09/resume-materi-hari-kedua-pkkmb-unusa.html?m=1
